Efek Domino Rupiah Ambles ke Rp18.000, Sektor Apa Saja yang Paling Terpukul?

Bisnis, Nasional3 Dilihat

JAKARTA, SASTALPOS.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar AS akibat gejolak pasar keuangan domestik.

​Mengutip Kompas.com, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa pelemahan tajam ini dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran yang melambungkan harga minyak dunia.

Sentimen ini juga memicu capital outflow (modal asing keluar) senilai Rp993,23 miliar dalam sehari, yang turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,11 persen ke level 5.941,07.

​Selain faktor global, Kompas.id mencatat tingginya kebutuhan valuta asing (valas) domestik untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen korporasi ikut memperparah tekanan.

Baca juga:  Satgas TMMD 106 Kodim 1301/Sangihe Berikan Penyuluhan Wasbang Kepada Masyarakat.

​Amblesnya rupiah ke level Rp18.000 ini langsung memicu efek domino yang memukul empat sektor riil berikut:

  • ​Sektor Manufaktur & Elektronik: Pembengkakan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku dan komponen impor dari luar negeri.
  • ​Sektor Farmasi: Tekanan masif pada harga obat-obatan karena sekitar 90 persen Bahan Baku Aktif Obat (API) masih harus diimpor dari China dan India.
  • ​Emiten Korporasi dengan Utang Valas: Lonjakan beban bunga dan pokok utang bagi perusahaan yang memiliki pinjaman dalam denominasi dolar AS tanpa lindung nilai (hedging) yang kuat.
  • ​Sektor Penerbangan (Aviasi): Kenaikan instan pada biaya operasional terbesar maskapai, yaitu pembelian avtur dan sewa (leasing) pesawat yang seluruhnya ditransaksikan dengan dolar AS.
Baca juga:  Kapolres Sangihe Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 16 Perwira

Langkah Bank Indonesia

​Menanggapi situasi ini, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan pihaknya terus melakukan intervensi pasar secara terukur (triple intervention) di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar sekunder SBN.

BI juga mengoptimalkan kerja sama transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dengan China, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.*

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Sastal Pos di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP