by

16 Pasien Demam Berdarah Dengue di Sangihe, Tertinggi di Kecamatan Tahuna Timur

SANGIHE, SASTALPOS.COM- Data Kementerian Kesehatan RI ( Kemenkes) hingga akhir Maret 2022 tercatat 313 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe, sejak bulan April dimana pasien sementara rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Liun Kendage  Tahuna terdapat 16 kasus. Selasa, (10/5/2022).

 

Melonjaknya, jumlah kasus warga yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD), Akibat cuaca panca roba seperti di musim penghujan seperti sekarang ini, sementara itu sejumlah pasien DBD terawat di RSUD Liun Kendage Tahuna yakni 14 pasien anak dan 2 pasien dewasa.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe dr. Handri Pasandaran dari 16 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) berasal dari 6 kecamatan diantaranya kecamatan Tahuna, Tahuna Timur, Tamako, Manganitu, Tabukan Utara dan Kendahe.

 

“ 16 pasien ini berasal dari 6 kecamatan yang ada, dan khusus bulan April tidak ada kasus DBD yang meninggal dunia, semuanya sembuh,” Kata Pasandaran.

 

Dikatakanya pula, untuk kasus DBD yang ada di kepulauan Sangihe tertinggi di kecamatan Tahuna Timur terdapat 6 pasien dan Tamako 2 Pasien, semntara empat kecamatan lainya hanya 1 pasien.

 

“ terbanyak dari kecamatan Tahuna Timur, dan kedua dari kecamatan Tamako,” Jelasnya.

 

Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat kepulauan Sangihe untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  ( PHBS) dan juga tetap menjaga kebersihan lingkungan  dengan menerapkan 3 M ( Menguras, Menutup, Mengubur).

 

“ dengan menerapkan PHBS dan 3 M, dipastikan kita bisa mencegah penularan DBD di daerah ini,” Tandasnya.

 

Perlu di ketahui

Apa itu penyakit DBD?

 

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae). Ae aegypti merupakan vektor yang paling utama, namun spesies lain seperti Ae.albopictus juga dapat menjadi vektor penular. Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Penyakit DBD banyak dijumpai terutama di daerah tropis dan sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

 

Bagaimana siklus penularan DBD?

 

Virus dengue biasanya menginfeksi nyamuk Aedes betina saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia), yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari (periode inkubasi ekstrinsik) sesudah mengisap darah penderita yang sedang viremia dan tetap infektif selama hidupnya. Ciri-ciri nyamuk yang menyebarkan virus dengue ini adalah berwarna hitam dengan belang-belang putih di tubuhnya.

 

Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 34 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit.

 

Gejala awal DBD antara lain demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung, kadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan, pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian. Masa inkubasi penyakit ini 3-14 hari, tetapi pada umumnya 4-7 hari.

 

Faktor Resiko DBD

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya DBD adalah :

Hidup atau melakukan perjalanan di daerah tropis.

Pernah terinfeksi DBD sebelumnya.

Faktor usia

Penderita DBD 95% berusia dibawah 15 tahun.

Seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

 

Bagaimana menanggulangi DBD?

Masyarakat perlu mewaspadai dan mengantisipasi serangan penyakit DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan di dalam rumah maupun di luar rumah, antara lain melalui peningkatan Gerakan Jumat Bersih untuk membrantas sarang dan jentik-jentik nyamuk.

Saat ini, pencegahan DBD yang paling efektif dan efisien adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu:

1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain;

2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan sebagainya;

3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

 

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan, seperti:

1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan;

2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk;

3) Menggunakan kelambu saat tidur;

4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk;

5) Menanam tanaman pengusir nyamuk;

6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah;

7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

 

Penanganan DBD

 

Tidak ada terapi yang spesifik untuk DBD, berikut beberapa terapi yang dapat dillakukan untuk mencegah kondisi bertambah parah :

 

Mengkonsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi karena muntah dan demam.

Berkonsutasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi pengobatan yang dapat menurunkan gejala seperti nyeri dan demam.

Jika kondisi semakin parah maka diperlukan perawatan intensif di rumah sakit.***/gun

 

*Disadur berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.