Kearifan Lokal Seke Meneke di Pulau Para Lelle Terus Dilestarikan

SULUT.SASTALPOS.COM- Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Albert Wounde S,H, MH melangsungkan Kunjungan Kerja di Pulau Para Kecamatan Tatoareng Kabupaten Kepulauan Sangihe ,Senin (17-6/24).

Selain Kunjungan Kerja , juga bersamaan dilaksanakanya tradisi penangkapan ikan secara tradisional menggunakan alat penangkap ikan yang disebut tradisi seke meneke.

Sekilas tentang tradisi ini merupakan warisan leluhur nenek moyang , di mana masyarakat para lelle berbondong melaksanakan ritual di pantai untuk menjaring ikan yang ada di laut.

Menurut penuturan warga setempat , Seke pertama kali dibuat oleh dua orang Dotu yang bernama Dolongpaha dan Takapaha. Keduanya meminang dua orang gadis yang berasal dari Kampung Paseng, di pulau Siau, dan setelah mendapatkan keturunan, mereka menciptakan alat menangkap ikan yang dinamakan Seke.

Alat penangkap ikan yang di gunakan menggunaan bahan tradisional yang terbuat dari bambu dan janur yang dianyam menggunakan rotan, bahan lain terbuat dari bulu tui, (bambu kuning kecil), gomutu (ijuk), dan kayu nibong (batang nira) serta janur kelapa. Seke terbuat dari anyaman bambu halus berdiameter 2-3 cm yang dipotong sepanjang setengah depa atau sekitar 80-90 cm.

Baca juga:  Porprov Hari Kelima, Ini Perolehan Sementara Medali Kontingen Kabupaten Sangihe per Cabor

Terkesima dengan tradisi itu , Penjabat Bupati Sangihe berharap kedepan tradisi ini terus terpelihara karena sarat akan nilai kearifan Lokalnya.

” ini sangat unik. Saya terkesan dan berharap tradisi ini terus dilestarikan. Dengan menampilkan kegiatan budaya seperti ini, kita bisa menghadirkan wisatawan dan menjadikan Kampung Para lebih dikenal,” Kata Wounde.

Wounde juga menambahkan bahwa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan khsusunya di daerah pantai , apalagi pantai desa para lelle di kenal Publik daerah wisata.

” Perlu kesadaran untuk menjaga lingkungan dari sampah. Meski saya lihat sudah cukup baik, namun masih ada sampah-sampah plastik yang bertebaran. Kita jaga bersama lingkungan kita agar pengembangan pariwisata di sini berkembang,” Jelasnya.

Upaya dalam melestarikan tradisi ini tidak terlepas dari peran serta Kapitalauang pada lelle dan lapisan masyarakat yang tiada hentinya menginisiasi tradisi itu tetap ada sampai sekarang , hal ini juga di akui Oleh Kapitalauang Para Lelle Elengkey Nesar kepada awak media menyampaikan meski tradisi ini di tahun 1980 mulai tergerus waktu dan hampir punah namun bersyukur dihidupkan kembali.

Baca juga:  Setahun Menahkodai Pulau Bahari Sangihe, Tamuntuan Berbagi Kasih Bersama Warga Kahakitang

” Bersyukur hari ini bisa melaksanakan kegiatan Seke. Seke ini sudah punah sebenarnya dan pada tahun ini kami berupaya untuk melaksanakannya lagi,” Kata Elengkey.

Turut berpatisipasi juga dalam tradisi itu , Forum Koordinasi Pimpinan Daerah , perwakilan dari legislatif Benhur Takasihaeng, SE , Ferdy Panca Sinedu, ST, Pejabat Dinas Pariwisata Provinsi dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulut, Guru Besar Pariwisata Politeknik Negeri Manado, Prof Dr Dra Bet El Silisna Lagarense MM Tour, Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia.

(Jy)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *