MANCHESTER, SASTALPOS.COM – Manajer Arsenal, Mikel Arteta, tak mampu menutupi rasa frustrasinya setelah timnya dipaksa menyerah 1-2 oleh Manchester City di Etihad Stadium, Senin (20/4/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini terasa menyakitkan karena The Gunners sempat memegang kendali sebelum gol telat tuan rumah membuyarkan poin mereka.
Jalannya Pertandingan
Pertandingan dimulai dengan intensitas luar biasa. City unggul lebih dulu di menit ke-18 melalui aksi individu Phil Foden. Arsenal merespons dengan sangat baik dan berhasil menyamakan kedudukan lewat sundulan Kai Havertz di awal babak kedua (menit ke-51).
Setelah skor imbang, Arsenal justru tampil lebih menekan dan menciptakan beberapa peluang emas. Namun, kejeniusan taktik Pep Guardiola memasukkan tenaga baru terbukti efektif. Di menit ke-86, melalui skema serangan balik cepat, Erling Haaland berhasil menjebol gawang David Raya, sekaligus mengunci kemenangan 2-1 untuk City.
Dalam konferensi pers usai laga yang dikutip dari Sky Sports, Arteta menyebut kekalahan ini sulit dicerna secara logika taktik karena ia merasa anak asuhnya tampil lebih dominan di babak kedua.
”Sangat sulit untuk menerima ini karena selama 60 hingga 70 menit, kami adalah tim yang lebih baik. Kami mengontrol mereka, menciptakan peluang, tapi di stadion ini, jika Anda tidak membunuh pertandingan, mereka akan menghukum Anda lewat satu momen transisi,” ujar Arteta dengan nada kecewa.
Kekalahan ini membuat posisi Arsenal di puncak klasemen kini hanya terpaut 3 poin dari Manchester City, yang masih mengantongi tabungan satu pertandingan. Arteta menyadari bahwa momentum kini mulai beralih ke tangan sang juara bertahan.
”Kami merasa sakit hati. Ruang ganti merasa sangat kecewa karena kami tahu betapa pentingnya laga ini. Namun, tugas saya sekarang adalah membangkitkan mereka kembali. Kami tidak boleh membiarkan kekalahan ini menghancurkan seluruh kerja keras yang telah kami lakukan musim ini,” tambahnya.
Kini, Arsenal harus segera melupakan kekalahan pahit ini. Dengan sisa laga yang semakin sedikit, Arteta dituntut untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar “murid” yang berbakat, melainkan manajer yang mampu membawa Meriam London keluar dari tekanan dan mengakhiri puasa gelar mereka.*





