Di Balik Keriput, Ada Keteguhan: Kisah Opa Akang di Hari Buruh

Berita, Sangihe1119 Dilihat

SANGIHE.SASTALPOS.COM –Fajar belum sepenuhnya merekah di Pelabuhan Nusantara Tahuna. Namun langkah-langkah kaki para pekerja sudah mulai memecah sunyi. Di antara mereka, tampak sosok renta yang tetap setia hadir, menyapa pagi dengan semangat yang tak pernah pudar. Dialah Sterman Ambat, atau yang akrab disapa Opa Akang—tenaga bagasi tertua yang masih bertahan di pelabuhan itu, bahkan di usia 70 tahun.

 

Keriput di wajahnya bukan sekadar tanda usia, melainkan jejak panjang pengabdian. Sejak 1994, Opa Akang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan pelabuhan di wilayah utara Kepulauan Sangihe. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengangkat, menyusun, dan mengantar barang-barang penumpang kapal—pekerjaan yang menuntut tenaga sekaligus ketahanan.

Kini, tubuhnya memang tak lagi setangguh dulu. Ia tak lagi memanggul beban berat atau melompat naik ke dek kapal. Namun satu hal yang tak berubah: tekadnya untuk tetap bekerja.

“Saya sudah kerja di sini dari 1994. Sekarang memang sudah tidak kuat angkat berat, tapi saya tetap datang bantu semampunya,” ucapnya pelan, dengan senyum yang menyimpan keteguhan.

Baca juga:  Awalnya Ditolak Warga, Mayat PDP Tetap Dimakamkan di TPU Pananekeng Milik Pemda Sangihe

Rutinitasnya dimulai saat sebagian orang masih terlelap. Pukul 03.00 WITA, Opa Akang sudah bersiap menyambut kapal subuh. Siang hari, ia kembali hadir pukul 13.00 WITA, melanjutkan tugas yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin beban. Namun bagi Opa Akang, itu adalah panggilan.

Pekerjaan sebagai bagasi bukan sekadar sumber penghasilan. Di balik setiap langkahnya, tersimpan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Dari pelabuhan sederhana di perbatasan negeri ini, ia terus berjuang demi anak-anaknya, memastikan dapur tetap mengepul meski tenaga semakin terbatas.

Di mata rekan-rekannya, Opa Akang bukan sekadar pekerja. Ia adalah simbol ketekunan—potret hidup dari arti loyalitas dan kerja keras. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa semangat tidak mengenal usia.

Pada momentum Hari Buruh Internasional, kisah Opa Akang terasa semakin bermakna. Ia mewakili ribuan pekerja sektor informal di daerah kepulauan yang kerap luput dari sorotan, namun tetap menjadi tulang punggung kehidupan ekonomi lokal.

Baca juga:  16 Pasien Demam Berdarah Dengue di Sangihe, Tertinggi di Kecamatan Tahuna Timur

Di balik kesederhanaannya, Opa Akang menyimpan harapan besar. Ia ingin ada perhatian lebih dari pemerintah, khususnya bagi para tenaga bagasi yang telah mengabdikan usia mereka di pelabuhan.

“Harapan saya, semoga pemerintah bisa lebih perhatikan kami para bagasi di sini,” tuturnya lirih.

Di ujung utara Sulawesi, di dermaga yang tak pernah benar-benar sepi, Opa Akang terus berjalan—perlahan namun pasti. Ia mungkin tak lagi sekuat dulu, tetapi semangatnya tetap tegak berdiri. Sebab bagi dirinya, bekerja bukan hanya tentang kekuatan fisik, melainkan tentang menjaga harga diri dan harapan.

Dan di setiap langkahnya yang sederhana, tersimpan pelajaran besar: bahwa usia boleh menua, tetapi semangat untuk hidup dan berjuang tak pernah mengenal batas. (JB)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Sastal Pos di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP