Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Penonton, Masalah Visa AS dan Tiket Mahal Jadi Pemicu

Olahraga28 Dilihat

SASTALPOS.COM – Gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diterpa isu miring. Di media sosial dan forum sepak bola, narasi bahwa turnamen kali ini akan terasa hambar dan sepi penonton terus bermunculan. Ketatnya imigrasi Amerika Serikat hingga meroketnya biaya bagi suporter ditengarai menjadi pemicu utama.

Ruwetnya Visa AS: Fans hingga Timnas Jadi Korban

Dilansir dari Starting Eleven News, Faktor utama terancam sepinya turnamen ini adalah ketatnya birokrasi imigrasi AS. Ribuan suporter, termasuk 150 penggemar timnas Ghana, gagal berangkat karena visanya ditolak. Selain itu, biaya visa tergolong mahal, mencapai 205 USD (sekitar Rp3 juta), setara upah bulanan di negara berkembang.

​Masalah ini bahkan menimpa elemen penting pertandingan. Wasit asal Somalia, Omar Artan, batal bertugas karena kendala visa. Timnas Iran bahkan terpaksa mengungsi dan berlatih di Meksiko karena sebagian rombongan belum mengantongi izin masuk AS. Iran juga dibatasi hanya boleh keluar-masuk AS di hari pertandingan, yang membuat mereka terancam melanggar aturan FIFA terkait konferensi pers.

Baca juga:  Taklukan Maroko, Senegal Kunci Gelar Kedua Piala Africa (AFCON) 2026

Harga Tiket Selangit dan Akomodasi Mencekik

Tembok besar lain bagi penonton adalah faktor finansial. FIFA menerapkan sistem dynamic pricing (harga dinamis) yang membuat tiket fase grup melonjak dari Rp940 ribu hingga Rp10,2 juta. Sementara untuk laga final, harga tiket menyentuh angka fantastis Rp583 juta.

​Beban suporter kian membengkak karena biaya penginapan dikabarkan menembus Rp30 juta per malam. Ditambah letak geografis Amerika Utara yang sangat luas, penonton harus merogoh kocek ekstra dalam untuk transportasi antar-stadion.

Aturan Kaku FIFA dan Jenuh Format Baru

Baca juga:  Satu Laga Sisa! Italia Diambang Akhiri Penantian Panjang Menuju Piala Dunia

Hype Piala Dunia 2026 di tingkat akar rumput juga teredam akibat aturan hak cipta FIFA yang terlalu kaku. Kafe lokal dilarang menggunakan istilah “Piala Dunia” untuk acara nonton bareng (nobar) tanpa izin resmi, sehingga promosi organik jadi mati.

​Selain itu, penambahan kontestan yang membuat total laga membengkak menjadi 104 pertandingan justru memicu kejenuhan. Ditambah lagi, ada pergeseran perilaku suporter generasi baru yang kini lebih suka memantau hasil akhir di media sosial ketimbang menonton laga penuh 90 menit.*

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Sastal Pos di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP